Hukum Nyanyian dan Musik dalam Islam (part1)
Minggu, 18 Desember 2011
Ditulis oleh
Frita Nadia
Musik adalah sebuah industri entertaintment yang sedang berkembang pesat dan digemari banyak orang pada masa kini. Lantunan lagu yang sudah menjadi teman kehidupan sehingga hidup sesorang ada yang tidak bisa lepas dari musik dan nyanyian. Hidupnya yang tidak bisa lepas dari gitar, piano, nyanyian, dan lainnya terkait musik. Berbagai ajang kompetisi di bidang musik kian ramai di hampir setiap stasiun TV. Ramainya lantunan musik merupakan hal yang tidak bisa terlepas dari tanda-tanda hidup di akhir zaman. Mengapa demikian? Dalam periwayatan hadist yang berbunyi :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Akan terjadi (di akhir zaman) penenggelaman bumi, hujan batu, dan pengubahan rupa. Ada seseorang dari umat Islam (sahabat) yang bertanya, "Kapankah hal itu akan terjadi? Maka beliau menjawab, "Apabila musik dan biduanita telah merajalela dan khamer telah dianggap halal." (HR. Tirmidzi (2212) Al-Fitan dari hadits 'Imran bin Hushain, Ibnu Majah (4060) Al-Fitan dari Sahl bin Sa'd, dan Thabrani dalam Mu'jamul-Ausath. Hadits ini shahih)
Dari hadist tersebut kemudian terpikir secara sadar, apakah musik itu sebenarnya haram?
Beberapa ulama ada yang berbeda pandangan mengenai nyanyian dan musik itu menjadi halal atau haram. Sehingga penyikapannya pun berbeda-beda pula. Ada yang membuka telinganya ketika lantunan lagu terdengar, ada pula yang langsung menutup telinganya, dan ada yang diantara mereka yang terkadang menolak segala bentuk musik namun ikut pendapat lainnya. Untuk melihat kejelasan dari pendapat di atas, mari kita lihat ayat AlQur'an mengenai nyanyian :
Nyanyian dikatakan sebagai "lahwal hadits" yaitu perkataan yang tidak berguna. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam surat Luqman ayat 6-7 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih”
Musik dapat menyebabkan manusia menjadi lalai dari ketaatan Allah Ta'ala. Hati manusia menjadi lalai pada sholat dan lalai dalam melantunkan ayat suci Al Qur'an.
Mari kita lihat lagi penjelasan hadits dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata :
Hadits pertama :
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas)
Hadits kedua, dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, akan ada orang-orang dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebenarnya mengapa Allah dan Rasul-Nya membenci musik dan nyanyian adalah terdapat 2 hal yang kemudian diuraikan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah yaitu :
Musik bagi jiwa seperti arak. Yaitu menjadikan orang yang melakukan berbagai kekejian karena dimabukkan oleh musik dan nyanyian.
Musik menjadikan pecandunya lebih mencintai penyanyi ataupun pemain musik ketimbang lantunan ayat suci Al Qur'an.
Beberapa ulama mengenai nyanyian ataupun musik antara lain :
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan " Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku tidak menyukainya."
Imam Asy Syafi'i mengatakan "Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak disukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya ditolak."
Setelah melihat uraian ayat dan hadits di atas, kemudian kita merenungi kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Saya pun cukup terkaget dengan datangnya ayat yang menjelaskan tentang hukum mengenai nyanyian. Selama ini saya cukup update dengan datangnya lagu-lagu baik yang indonesia maupun lagu barat. Belum terpikir bahwa ini merupakan hal yang dihindari. Saat direnungi, saya sadar bahwa musik memang melalaikan dikarenakan memabukkan dan membuat candu.
Mengapa mabuk? Fenomena ini sudah terlihat dengan melihat sejumlah timeline twitter dari timeline saya dan teman-teman yang terbawa suasana dengan apa yang terkandung dalam lagu yang dilantunkan. Sesekali lagu tersebut membuat seseorang menjadi galau (dalam bahasa jaman sekarang). Lama kelamaan bisa menjadi penyakit dalam hati dan jiwa.
Lalu apa yang harus dilakukan setelah mendengar penjelasan ini? Jika setiap penyakit ada obatnya, maka terdapat cara bagaimana mengobati kecanduan akan musik dan nyanyian. Dalam sebuah buletin di salah satu mesjid yang ada di dekat rumah saya, cara menghindari nyanyian dan musik antara lain :
Menjauhkan diri dari mendengarkan nyanyian dan musik melalui televisi, radio, dan lain-lain, terutama lagu-lagu yang seronok.
Seketika saya mendapatkan buletin tersebut, saya kemudian merenung. Alhasil, saya bertekad untuk menghindari musik. Pada awalnya memang sulit karena sudah menjadi kebiasaan akan mendengarkan musik. Tetapi sekali lagi, batin terus mengingatkan bahwa perintah Allah tidak boleh dibantah. Bagaimana mau bertaqwa jika kita tidak menaati perintah-Nya. Kemudian saya mulai menghapus beberapa lagu-lagu yang saya punya di beberapa gadget, seperti laptop dan handphone. Dihapus bersih.
Upaya untuk menjauhkan diri dari musik tidak berhenti sampai disitu saja. Godaan bisa datang dari celah manapun. Godaan bisa datang ketika mendengarkan radio. Saya terbiasa pula mendengarkan radio saat sedang dalam perjalanan karena biasanya saya menempuh perjalanan yang cukup jauh ketika berangkat ke kampus. Biasanya saya mendengarkan beberapa stasiun radio terkenal di bilangan Jakarta. Tetapi mulai sekarang saya bertekad untuk tidak mendengar stasiun tersebut. Saya menggantinya dengan stasiun radio islam. Mudah-mudahan ini akan berlanjut hingga akhir hayat.
Kebetulan, adik saya bersekolah di ma’had. Kemudian saya menanyakan padanya mengenai nasyid yang biasanya diperdengarkan di ma’had. Saya mengganti sederetan lagu-lagu dengan lantunan nasyid. Alhamdulillah saya pun menemukan lantunan asmaul husna yang biasa diperdengarkan semasa SMA dulu.
Membaca Al Qur’an, terutama surat Al Baqarah. “Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim). Kehadiran dan kecintaaan pada musik membuat kita terlena dan candu sehingga kita lupa pada kecintaan terhadap Al Qur’an. Maka dari itu, selain kita menjauhkan dari mendengar nyanyian atau musik, kita menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an.
Mempelajari riwayat hidup Rasulullah sebagai seorang yang berakhlak mulia serta para sahabatnya. Mempelajari hidup Beliau merupakan bentuk kecintaan kita terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Masih ragu? Masih bimbang kapan harus memulainya?
Untuk mengukuhkan tekad, terdapat hadits yang dapat membuat kita harus selalu yakin bahwa perubahan yang positif akan mendatangkan kebaikan di dalam diri. Dengan meninggalkan sesuatu yang dikarenakan Allah subhanallahu wa ta’ala, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik. seperti diungkapkan dalam sebuah hadits berikut :
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dgn sesuatu yg lebih baik.” (HR.Ahmad)
Semoga kita menjadi pribadi yang semakin baik di setiap harinya sesuai dengan ridho Allah. Ikhlas dan Muttaba’ah sebagai kuncinya ibadah.
“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas)
Hadits kedua, dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sungguh, akan ada orang-orang dari ummatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebenarnya mengapa Allah dan Rasul-Nya membenci musik dan nyanyian adalah terdapat 2 hal yang kemudian diuraikan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah yaitu :
Musik bagi jiwa seperti arak. Yaitu menjadikan orang yang melakukan berbagai kekejian karena dimabukkan oleh musik dan nyanyian.
Musik menjadikan pecandunya lebih mencintai penyanyi ataupun pemain musik ketimbang lantunan ayat suci Al Qur'an.
Beberapa ulama mengenai nyanyian ataupun musik antara lain :
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan " Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku tidak menyukainya."
Imam Asy Syafi'i mengatakan "Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak disukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya ditolak."
Setelah melihat uraian ayat dan hadits di atas, kemudian kita merenungi kembali apa yang telah kita lakukan selama ini. Saya pun cukup terkaget dengan datangnya ayat yang menjelaskan tentang hukum mengenai nyanyian. Selama ini saya cukup update dengan datangnya lagu-lagu baik yang indonesia maupun lagu barat. Belum terpikir bahwa ini merupakan hal yang dihindari. Saat direnungi, saya sadar bahwa musik memang melalaikan dikarenakan memabukkan dan membuat candu.
Mengapa mabuk? Fenomena ini sudah terlihat dengan melihat sejumlah timeline twitter dari timeline saya dan teman-teman yang terbawa suasana dengan apa yang terkandung dalam lagu yang dilantunkan. Sesekali lagu tersebut membuat seseorang menjadi galau (dalam bahasa jaman sekarang). Lama kelamaan bisa menjadi penyakit dalam hati dan jiwa.
Lalu apa yang harus dilakukan setelah mendengar penjelasan ini? Jika setiap penyakit ada obatnya, maka terdapat cara bagaimana mengobati kecanduan akan musik dan nyanyian. Dalam sebuah buletin di salah satu mesjid yang ada di dekat rumah saya, cara menghindari nyanyian dan musik antara lain :
Menjauhkan diri dari mendengarkan nyanyian dan musik melalui televisi, radio, dan lain-lain, terutama lagu-lagu yang seronok.
Seketika saya mendapatkan buletin tersebut, saya kemudian merenung. Alhasil, saya bertekad untuk menghindari musik. Pada awalnya memang sulit karena sudah menjadi kebiasaan akan mendengarkan musik. Tetapi sekali lagi, batin terus mengingatkan bahwa perintah Allah tidak boleh dibantah. Bagaimana mau bertaqwa jika kita tidak menaati perintah-Nya. Kemudian saya mulai menghapus beberapa lagu-lagu yang saya punya di beberapa gadget, seperti laptop dan handphone. Dihapus bersih.
Upaya untuk menjauhkan diri dari musik tidak berhenti sampai disitu saja. Godaan bisa datang dari celah manapun. Godaan bisa datang ketika mendengarkan radio. Saya terbiasa pula mendengarkan radio saat sedang dalam perjalanan karena biasanya saya menempuh perjalanan yang cukup jauh ketika berangkat ke kampus. Biasanya saya mendengarkan beberapa stasiun radio terkenal di bilangan Jakarta. Tetapi mulai sekarang saya bertekad untuk tidak mendengar stasiun tersebut. Saya menggantinya dengan stasiun radio islam. Mudah-mudahan ini akan berlanjut hingga akhir hayat.
Kebetulan, adik saya bersekolah di ma’had. Kemudian saya menanyakan padanya mengenai nasyid yang biasanya diperdengarkan di ma’had. Saya mengganti sederetan lagu-lagu dengan lantunan nasyid. Alhamdulillah saya pun menemukan lantunan asmaul husna yang biasa diperdengarkan semasa SMA dulu.
Membaca Al Qur’an, terutama surat Al Baqarah. “Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR Muslim). Kehadiran dan kecintaaan pada musik membuat kita terlena dan candu sehingga kita lupa pada kecintaan terhadap Al Qur’an. Maka dari itu, selain kita menjauhkan dari mendengar nyanyian atau musik, kita menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an.
Mempelajari riwayat hidup Rasulullah sebagai seorang yang berakhlak mulia serta para sahabatnya. Mempelajari hidup Beliau merupakan bentuk kecintaan kita terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Masih ragu? Masih bimbang kapan harus memulainya?
Untuk mengukuhkan tekad, terdapat hadits yang dapat membuat kita harus selalu yakin bahwa perubahan yang positif akan mendatangkan kebaikan di dalam diri. Dengan meninggalkan sesuatu yang dikarenakan Allah subhanallahu wa ta’ala, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik. seperti diungkapkan dalam sebuah hadits berikut :
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dgn sesuatu yg lebih baik.” (HR.Ahmad)
Semoga kita menjadi pribadi yang semakin baik di setiap harinya sesuai dengan ridho Allah. Ikhlas dan Muttaba’ah sebagai kuncinya ibadah.
Label: Islam, Perjalanan Rohani
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar