Ku Mendaki, Ku Terperosok
Selasa, 11 Oktober 2011
Ditulis oleh
Frita Nadia
Ini bukan tentang menjalankan aktivitas pendakian bukit ataupun gunung. Ini bukan tentang menjelajahi alam yang terbentang luas. Ini hanya cerita tentang Aku yang sedang dibawa mendaki kemudian terjatuh terperosok dalam. Sangat dalam. Bodohnya aku tidak melihat jurang di depan mata. Bagaimana bisa sebuah jurang tak terlihat oleh pandanganku, padahal sebenarnya itu tampak jelas.
Aku yang terlalu menikmati pendakian. Terlalu menikmati keindahan sepanjang jalan. Menikmati indahnya bunga yang bermekaran. Nikmat seperti ini bisa melupakan seseorang untuk berpikir apa yang harus dilakukan setelahnya.
Tiba-tiba, aku terperosok ke dalam jurang. Jurang yang dalam sekali. Yang kulakukan adalah aku yang diam terhentak. Tak tersadarkan dalam beberapa jam. Aku diam membisu. Yang aku ingat, ada sesorang yang berusaha membangunkanku. Tetapi ragaku lemas tak berdaya. Diri ini tidak percaya bahwa Aku benar lemas adanya.
Beberapa jam kemudian, Aku tersadar. Keinginan untuk bergerak dari dalam diri telah kuat, tapi apa dayaku. Tenagaku tak sanggup menggerakkannya. Aku menangis menahan sakit karena terperosok dari ketinggian yang cukup membuat badanku remuk. Menangis karena menahan sakit. Dan juga menangis karena dayaku telah habis. Telah habis.
Sayup-sayup terdengar kawan datang mendekat. Ya, itu kawanku. Kawanku datang untuk membantuku dan juga memulihkan keadaanku, batinku, dan semua yang telah habis. Karena semua itu aku dapati trauma yang mendalam ketika melakukan pendakian dimana pada akhirnya aku terjatuh terperosok. Trauma melihat bukit. Trauma menyusuri kaki gunung yang indah. Trauma. Trauma. Trauma. Trauma untuk melakukannya sekali lagi. Karena itu menyakitkan dan menjatuhkan. Terima kasih ya Allah aku telah diingatkan untuk menyusuri jalan dengan hati-hati, aku ditemani kawan yang baik hati, dan menikmati kehidupan di dunia ini.
Depok, 22 Agustus 2011
Tertanda,
Kamuflase-Kamufalse
Label: Kamuflase-Kamufalse

0 komentar:
Posting Komentar