Decrease to Increase (2)

Sabtu, 24 November 2012


Hidup terus berjalan seiring waktu. Waktu membuat kita menua tanpa sadar. Tanpa sadar pula sisa hidup ini berkurang terus menerus. Apa yang diperbuat dirasa masih terasa jauh dari kata cukup, baik itu cukup iman, ilmu, dan amal. Akan tetapi dalam proses belajar, semakin banyak belajar seharusnya semakin membuat kita merasa kecil di hadapan Sang Khalik Allah subhanallah Wa Ta’ala. 
Melalui belajar, kita jadi lebih memahami arti kehidupan. Lebih memahami apa yang harus dikurangi dan apa yang harus ditambah untuk bekal di akhirat. Dalam serangkaian kehidupan di masa lalu, saya dapati hal-hal yang jauh dari kebaikan.  Padahal seharusnya, jika iman yang tertancap sangat dalam, keimanannya itu dapat direalisasikan dengan mena’ati perintahNya dan menjauhi larangNya. 
Ada beberapa hal yang menjadi renungan bagi saya untuk mencari hal-hal “decrease to increase” lainnya. Seperti biasanya, saya membaca tulisan dari media islam. Kemudian terinspirasi dari tulisan voa-islam.com dengan judul Every Minute My Facebook Has Update . Dari tulisan tersebut disimpulkan bahwa jangan samapai terlalu menyibukkan diri dengan facebook. Kalaupun ketika menggunakan facebook bukanlah menjadikannya sarana menebar maksiat dan mudharat. 
Hal-hal yang patut direnungi, khususnya saya sendiri akan saya uraikan satu per satu. 
Pertama, tidak menyibukkan diri dengan update status. Tidak menyibukkan diri disini bermakna lebih dari satu. Yang pertama adalah tidak mempublikasikan semua kegiatan yang dilakukan ke facebook. Yang kedua adalah tidak menghabiskan banyak  waktu untuk selalu update status di FB.  Kenapa bisa begitu ya? Bingung? Yuk dilihat dampaknya ya. Tidak semua kegiatan yang kita lakukan dipulikasikan ke facebook atau diumbar-umbar ke khalayak umum. Selain itu, secara sadar ataupun tidak, membiasakan diri menjadi orang yang riya, sum’ah dan lain-lain dimana kegiatan yang dilakukan ingin dikomentari, ingin diketahui oleh orang banyak. 
Kedua, facebook menjadi celah bagi kemaksiatan dan kemudharatan. Celah untuk menjadi orang yang riya, sum’ah, mencela, candaan yang berlebihan, perkataan yang sia-sia dan mudharat lainnya. 
Ketiga, menjauhkan diri dari menuntut ilmu. Seperti yang tertulis dalam tulisan voa-islam.com tersebut, berlama-lama dengan facebook akan mengurangi waktu kita untuk menuntut ilmu. Padahal menuntut ilmu lebih baik. 
Keempat, menjadi kegiatan yang sia-sia. Sia-sia? Kok bisa ya? Melihat point pertama, menyibukkan diri dengan facebook dimana semua kegiatan dipublikasikan. Penulisan kalimat yang cenderung mengeluh dan juga tulisan yang tidak bermakna ataupun bermanfaat. Padahal kita sebagai pemuda harus tangguh. Berkomentar dnegan orang lain yang sifatnya tidak penting akan menjadi sia-sia. 
Mungkin hanya 4 yang bisa disampaikan dalam tulisan ini dan mudah-mudahan bisa direnungi untuk perbaikan hidup kita di masa depan.  Jadi ke depannya mudah-mudahan kita bisa mempergunakan facebook dengan lebih baik lagi yaitu sebagai sarana penyebar nilai-nilai kebaikan, khususnya perbaikan diri saya. 
Tulisan ini adalah bentuk respon saya sendiri melihat fenomena yang sedang banyak terjadi saat ini. Dan sebenarnya saya pun telah menjadi salah satu korbannya. Untuk itu, tulisan ini sebenarnya sebagai renungan bagi saya pribadi. Namun, jika ada orang lain yang turut membaca dan ternyata dapat memberikan dampak positif, saya ucapkan Alhamdulillah. 
Pamulang, 14 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Kategori Catatan

Halaman di Catatan

About

Foto saya
wanna be red butterfly : Love Allah subhanallahu wa Ta'ala, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, family, and friends

Followers

Daftar Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.